Activities

  • Lectures: Cryptography, Advanced Computer Security, Information Security, Applied Cryptography, Computer Forensic
  • Professional training
  • Cyber security student competitions
  • Research (as part of student’s project or thesis): Steganography, Blockchain Applications, Forensic Procedures
  • Consultancy and expert speaker: Election Security (2018), FGD Membangun Kedaulatan Siber Indonesia (2019)
  • Security monitoring for websites *.ui.ac.id
  • Secure your device: Hardening and checking the vulnerabilities of your laptop, handphones.
  • Forensic training: Detect if a picture/video/sound recording has been modified, lost files recovery, Open Source Intelligence.

News Coverage

KPU Diingatkan Bersiap Hadapi Kemungkinan Serangan Siber dalam Pemilu

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "KPU Diingatkan Bersiap Hadapi Kemungkinan Serangan Siber dalam Pemilu ", https://nasional.kompas.com/read/2018/12/07/06434231/kpu-diingatkan-bersiap-hadapi-kemungkinan-serangan-siber-dalam-pemilu. Penulis : Christoforus Ristianto, Editor : Inggried Dwi Wedhaswary. Kompas.com - 07/12/2018, 06:43 WIB 

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Centre for Cyber Security and Cryptography (CCSC) atau Pusat Keamanan Siber dan Kriptografi Universitas Indonesia, Setiadi Yazid, menyarankan  Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk membuat standar keamanan di Pemilu 2019 dan pemilu selanjutnya.

Cara KPU Antisipasi Serangan Peretas Jelang Pilpres 2019

Baca selengkapnya di Tirto.id dengan judul "Cara KPU Antisipasi Serangan Peretas Jelang Pilpres 2019", https://tirto.id/cara-kpu-antisipasi-serangan-peretas-jelang-pilpres-2019-dbaT. Reporter: Felix Nathaniel, Penulis: Felix Nathaniel, Editor: Abdul Aziz. Tirto.id - 6 Desember 2018

tirto.id - Dosen Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI) Setiadi Yazid meyakini serangan yang ada sebenarnya lebih ke ranah membuat keonaran. Alasannya, kata Yazid, karena penghitungan suara selama ini dilakukan secara manual dengan proses verifikasi penghitungan dua minggu. “Kita bisa duga tujuannya bukan untuk memenangkan satu kontestan, tapi lebih ke menimbulkan kekacauan,” kata Yazid, di Jakarta, Kamis (5/12/2018).

Serangan Siber Pemilu 2019 Bisa Ganggu Demokrasi

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Desember 2018 di halaman 2 dengan judul "Serangan Siber Pemilu Ganggu Demokrasi". Oleh: Antony Lee. Kompas.id - 7 Desember 2018 · 06:00 WIB.
  

JAKARTA, KOMPAS – “Secara hukum yang sah itu rekapitulasi manual yang prosesnya berlangsung dua pekan setelah pemungutan suara bukan yang ada di sistem informasi. Tetapi (serangan siber) justru yang kena dampaknya masyarakat karena menimbulkan kebingungan,” kata peneliti Centre for Cyber Security and Cryptography Setiadi Yazid, dalam Diskusi Publik Tantangan Keamanan Siber dalam Pemilu 2019 yang diselenggarakan Network for Democracy and Electoral Integrity (Netgrit) dan International IDEA di Jakarta (6/12/2018). Pembicara lain yang hadir dalam diskusi itu ialah Peter Wolf, pakar teknologi informasi dan komunikasi International IDEA, anggota Komisi Pemilihan Umum Viryan Azis, Riko Rasota dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta Nuriman yang mewakili Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga. Perwakilan Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin juga diundang panitia, berhalangan hadir. Setiadi menyampaikan, serangan siber yang menganggu sistem informasi penyelenggaraan pemilu bisa menurunkan kepercayaan terhadap sistem dan hasil pemilu. Pemerintah kemudian dianggap tidak benar kemudian jadi kehilangan kepercayaan masyarakat. Menurut dia, peretas bisa individual, kelompok teroris, atau bisa juga negara yang ingin mengacaukan negara lain. Serangan semacam ini bisa bertujuan mengganggu sistem demokrasi.